Error: No CURL Found - Social Networks AutoPoster needs the CURL PHP extension. Please install it or contact your hosting company to install it.

Fakta Menarik dan Fungsi Utama Matras Karate yang Wajib Diketahui | Pusat Perlengkapan Karate

Fakta Menarik dan Fungsi Utama Matras Karate yang Wajib Diketahui

Matras Karate

Siapa yang tahu olahraga karate? Olahraga ini merupakan seni bela diri, seperti halnya  taekwondo, wushu, silat, dan sebagainya. Seni beladiri ini baik untuk dipelajari, bahkan oleh anak-anak. Sebab karate merupakan salah satu jenis olahraga tanpa alat atau disebut sebagai olahraga tangan kosong. Selain itu Anda tak perlu khawatir, matras karate dapat menghindarkan resiko cedera bagi seorang karateka.

Karate dapat diterapkan pada situasi-situasi mendesak dan berbahaya seperti perampokan dan penculikan. Kemampuan karate sangat bisa diandalkan untuk melindungi diri dan orang terdekat Anda. Yang lebih memudahkan lagi, Anda tak perlu membawa alat-alat apapun sebagai senjata. Oleh sebab itu, banyak orang yang tertarik untuk mempelajari seni bela diri karate.

Sekilas Tentang Karate

matras karate

Karate merupakan seni bela diri yang berasal dari Jepang. Seni bela diri ini sedikit  memiliki pengaruh dari Seni bela diri Cina kenpō. Karate dibawa masuk ke Jepang melalui  Okinawa dan kemudian mulai  berkembang di Ryukyu Islands. Seni bela diri karate  pertama kali disebut dengan  “Tote” yang artinya  seperti “Tangan China”.

Ketika karate masuk ke Jepang,  bersamaan dengan nasionalisme Jepang yang  sedang tinggi-tingginya pada saat itu, sehingga Sensei Gichin Funakoshi mengubah kanji Okinawa (Tote: Tangan China) dalam kanji Jepang menjadi ‘karate’ (Tangan Kosong). Tujuannya adalah agar lebih mudah diterima oleh masyarakat Jepang pada masa itu.

Menurut Japan Karatedo Federation (JKF) dan World Karatedo Federation (WKF), aliran karate utama ialah sebagai berikut:

  1. Shotokan

Shoto merupakan nama pena Gichin Funakoshi. Kan di sini dapat diartikan sebagai gedung/bangunan, sehingga shotokan bisa diterjemahkan sebagai Perguruan Funakoshi. Gichin Funakoshi merupakan pelopor yang membawa ilmu karate dari Okinawa ke Jepang.

Aliran Shotokan merupakan akumulasi dan standardisasi dari berbagai perguruan karate di Okinawa yang dulunya pernah dipelajari oleh Funakoshi. Sesuai dengan konsep Ichigeki Hissatsu, yaitu satu gerakan dapat membunuh lawan.

Shotokan memakai  kuda-kuda yang rendah serta pukulan dan tangkisan yang cukup keras. Gerakan Shotokan ini cenderung linear/frontal, sehingga ara praktisi Shotokan berani melakukan  adu pukulan langsung dan tangkisan dengan lawan bertarungnya.

  1. Goju-Ryu

Goju ini mempunyai arti keras-lembut. Aliran ini memadukan antara teknik keras dan teknik lembut, aliran ini adalah salah satu perguruan karate tradisional di Okinawa yang memiliki sejarah yang paling panjang. Juga semakin meningkatnya popularitas Karate di Jepang ( terlebih usai masuknya Shotokan ke Jepang), aliran Goju ini di bawa ke Jepang oleh Chojun Miyagi.

Miyagi melakukan pembaharuan banyak pada teknik-teknik aliran ini menjadi aliran Goju-ryu yang dikenal sekarang, sehingga tak sedikit orang yang menganggap Chojun Miyagi sebagai pendiri Goju-ryu. Sesuai pada konsep bahwa “dalam pertarungan yang sesungguhnya, kita harus bisa menerima dan membalas pukulan”.

Maka dari itu Goju-ryu menekankan pada latihan SANCHIN atau teknik pernapasan dasar. Tujuannya tak lain agar para praktisinya mampu memberikan pukulan yang kuat dan mampu  menerima pukulan dari lawan tanpa terluka sedikitpun. Goju-ryu menggunakan tangkisan yang bersifat circular serta lebih suka melakukan pertarungan jarak dekat.

  1. Shito-Ryu

Aliran Shito-ryu dikenal dengan keahlian bermain kata, terbukti dari banyaknya kata yang diajarkan di aliran Shito-ryu, yaitu ada 30 hingga 40 kata, ini lebih banyak dari aliran lain. Namun yang tercatat di Jepang hanyalah 111 kata beserta bunkainya.

Untuk perbandingan saja, Shotokan memiliki 25, Wado memiliki 17, Goju memiliki 12 kata. Dalam suatu pertarungan, praktisi  Karate Shito-ryu dapat menyesuaikan diri dengan kondisi apapun, mereka dapat bertarung seperti Shotokan (secara frontal), maupun dengan jarak dekat (seperti Goju).

  1. Wado-Ryu

Wado-ryu merupakan aliran Karate yang aling  unik dari aliran lain. Sebab berakar pada seni beladiri Shindo Yoshin-ryu Jujutsu, yaitu sebuah aliran b eladiri Jepang yang memiliki teknik kuncian persendian dan juga lemparan. Sehingga selain mengajarkan teknik Karate, Wado-ryu juga mengajarkan teknik kuncian persendian dan lemparan/bantingan seperti Jujutsu.

Dalam pertarungan, ahli Wado-ryu memakai prinsip Jujutsu yakni tidak ingin mengadu tenaga secara frontal, mereka  lebih banyak menggunakan tangkisan yang bersifat mengalir (bukan tangkisan keras), dan terkadang memakai  teknik Jujutsu seperti bantingan dan sapuan kaki guna menjatuhkan lawan.

Namun, di dalam pertandingan FORKI dan JKF, para praktisi Wado-ryu pun mampu beradaptasi dengan peraturan yang ada dalam suatu pertandingan dan mereka pun bertanding tanpa menggunakan jurus-jurus Jujutsu tersebut.

3 Latihan dasar karate

  1. Kihon

Arti kihon secara harfiah berarti dasar atau fondasi. Seorang karateka harus menguasai Kihon dengan baik sebelum mempelajari Kata dan Kumite.

  1. Kata (latihan jurus atau bunga karate)

Secara harfiah kata berarti bentuk atau pola. Kata dalam karate tidak hanya berupa latihan fisik biasa. Namun juga mengandung pelajaran mengenai prinsip bertarung. Gerakan-gerakan Kata pun banyak mengandung falsafah-falsafah hidup. Setiap Kata memiliki ritme gerakan dan pernapasan yang berbeda-beda.

Dalam Kata ada yang disebut BunkaiBunkai merupakan aplikasi yang dapat digunakan dari gerakan-gerakan dasar Kata. Setiap aliran memiliki perbedaan gerak dan nama yang berbeda untuk tiap Kata.

  1. Kumite (latihan tanding atau sparring)

Secara harfiah kumite berarti pertemuan tangan. Kumite dilakukan oleh murid-murid tingkat lanjut (sabuk biru). Akan tetapi sekarang ini, ada beberapa dojo yang mengajarkan kumite pada murid tingkat pemula seperti sabuk kuning. Sebelum melakukan kumite bebas (jiyu Kumite), terlebih dahulu praktisi mempelajari kumite yang telah diatur (go hon kumite) atau (yakusoku kumite).

Untuk kumite aliran olahraga, lebih dikenal dengan Kumite Shiai atau Kumite Pertandingan. Sedangkan untuk aliran Shotokan di Jepang, kumite hanya dilakukan oleh siswa-siswa yang telah mencapai tingkat dan, yaitu tingkatan paling tinggi (sabuk hitam). Praktisi diharuskan untuk dapat menjaga pukulannya supaya tidak mencederai kawan bertanding.

Di masa sekarang, karate pun dapat dibagi menjadi dua aliran. Yaitu aliran tradisional dan aliran olahraga. Aliran tradisional lebih menekankan pada aspek bela diri dan teknik tempur sedangkan aliran olahraga lebih bertumpu pada teknik-teknik untuk pertandingan olahraga.

Tingkatan Sabuk dalam Karate

Sabuk merupakan tingkatan dalam karate yang terbagi menjadi enam sabuk. Adapun enam tingkatan sabuk tersebut antara lain:

  1. Sabuk putih. Sabuk ini merupakan yang paling rendah tingkatannya.
  2. Sabuk kuning,
  3. Sabuk hijau,
  4. Sabuk biru
  5. Sabuk cokelat.
  6. Sabuk hitam. Ini merupakan sabuk yang memiliki tingkatan paling tinggi

Para karateka dapat  naik tingkat apabila  berhasil lulus dalam ujian sabuk. Ujian sabuk sendiri umumnya  diselenggarakan setiap empat bulan sekali, tetapi dapat pula sesuai aturan dari pelatih masing-masing dojo.

Lapangan dan Jenis Matras Karate

Lantai dalam cabang seni beladiri atau olahraga karate ini memiliki luas 8 x 8 meter, dengan beralas papan atau matras di atas panggung dengan ketinggian 1 meter dan ditambah dengan area  pengaman yang berukuran 2 meter pada tiap sisinya. Arena pertandingan harus dalam keadaan rata dan terhindar dari kemungkinan menimbulkan bahaya.

Pada Kumite Shiai yang umumnya digunakan oleh FORKI, mengacu aturan dari WKF, yaitu idealnya menggunakan matras dengan lebar 10 x 10 meter. Matras karate tersebut dibagi kedalam tiga warna yaitu putih, merah dan biru. Matras yang berada paling luar merupakan batas jogai di mana karateka yang tengah bertanding tidak boleh menyentuh batas tersebut atau dengan kata lain akan dikenakan pelanggaran.

Batas yang kedua lebih dalam dari batas jogai yaitu batas peringatan, sehingga karateka yang tengah  bertanding bisa memprediksi ruang arena pertandingan mereka. Sisa ruang lingkup matras yang paling dalam dan paling banyak dengan warna putih yaitu disebut  arena bertanding efektif.

Fungsi Matras Karate

  1. Menghindari terjadinya cedera kepala

Kehadiran  matras Karate memang tak kalah penting untuk melindungi kepala dari resiko cedera. Sama seperti resiko cedera lainnya, pada bagian yang satu ini memang harus sangat ekstra hati-hati.

Kepala merupakan bagian tubuh yang sangat rawan dan paling vital. Maka jangan sampai dalam prakteknya, Anda melewatkan penggunaan matras. Sebab jika Anda tak menggunakan matras, maka resiko gagar otak dapat mengintai Anda. Safety first ya, sobat!

  1. Melindungi tubuh dari benturan keras

Hampir seluruh cabang bela diri memiliki teknik menjatuhkan lawan, seperti judo, gulat, MMA dan sebagainya. Tak ketinggalan matras karate, meski tidak semua menggunakan teknik membanting (hanya wado-ryu saja) .

Oleh sebab itu untuk meminimalkan adanya benturan apapun pada tubuh karateka, sangat disarankan penggunaan matras dalam seni bela diri yang lentur dan mampu menunjang keamanan, kenyamanan dan keselamatan atlet.

  1. Meminimalkan resiko cedera bagi atlet

Ketika anda mengalami benturan dengan lantai yang keras, tentu saja ini akan sangat membahayakan diri Anda dan berakinat fatal. Tak jarang akan mengakibatkan cedera ringan hingga berat. Maka dari itu keberadaan matras karate dalam segala cabang bela diri sangatlah penting.

  1. Mengurangi terjadinya luka gores

Dalam praktek bela diri, seperti matras karate memang tak selalu berada di atas lantai yang memiliki struktur yang halus. Nyatanya ada pula beberapa atlet yang berlatih di pelataran luas seperti lapangan bola, lapangan futsal dan kadang kala memiliki struktur yang  tak rata.

Oleh sebab itu, apabila tidak ada matras yang melindungi Anda saat berlatih, bukan tidak mungkin bela diri yang dilakukan tak jarang meninggalkan luka gores.

Peralatan Penunjang Karate

Adapun peralatan penunjang yang diperlukan dalam pertandingan karate adalah sebagai berikut:

  1. Pakaian karate (karategi) bagi kedua kontestan
  2. Pelindung tangan
  3. Pelindung tulang kering
  4. Ikat pinggang (Obi) untuk kedua kontestan berwarna merah/aka dan biru/ao

Alat-alat lain yang diperbolehkan tapi bukan menjadi keharusan adalah:

  1. Pelindung gusi (di beberapa pertandingan menjadi keharusan), gunanya untuk menjaga gusi dari hantaman.
  2. Pelindung tubuh khusus kontestan putri.
  3. Pelindung selangkangan bagi kontestan putra
  4. Peluit untuk arbitrator/alat tulis

Seragam wasit/juri

  1. Baju putih
  2. Celana abu-abu
  3. Dasi merah
  4. Sepatu karet hitam tanpa sol
  5. Papan nilai/ scoring board

Leave a Reply

Peralatan Karate
Send via WhatsApp